Kota Madinah terletak di sebelah timur Pegunungan Al Hejaz, yang juga dikenal sebagai Pegunungan Al Sarawat, membentang dari Yaman hingga Yordania sepanjang 2.000 kilometer.
Topografi Madinah juga memiliki keunikan karena kota ini berada di persimpangan tiga lembah, yaitu Al Aql, Al Aqiq, dan Al Himdh, di dataran tinggi yang relatif rata. Lembah Al Aqiq merupakan salah satu lembah paling terkenal di Madinah dan sering juga ditulis sebagai Aqiq.
Lembah ini menampung air dari kawasan Al-Naqi'e, yang terletak lebih dari 100 kilometer di selatan Madinah, di pinggiran kota, lalu membentang hingga Gunung Ayr. Bagian Lembah Aqiq ini disebut Al Aqiq Atas. Selain itu, salah satu gerbang Masjid Nabawi juga dinamai menurut lembah ini (Bab al-Aqeeq), menjadikannya salah satu tempat penting untuk dikunjungi di Madinah.
Al Aqeeq memainkan peran penting dalam sejarah Arab dan pernah menjadi jalur perdagangan serta ziarah pada masa lampau. Sejumlah prasasti ditemukan di kawasan ini, berasal dari abad ke-1 hingga ke-3 setelah Hijrah dan berkaitan dengan sejarah awal Islam.
Dengan aliran air yang besar seperti sungai, hamparan lembah yang luas dengan lahan pertanian hijau, serta berbagai situs bersejarah seperti Bir Rumad, Qasr Urwah, Masjid Mu'aras, dan lainnya, lembah ini terus menjadi salah satu daya tarik wisata penting di Madinah.
Jadi, apakah Anda berencana mengunjungi Wadi Al Aqeeq dalam waktu dekat? Jangan khawatir, panduan ini akan membantu Anda. Berikut panduan lengkap tentang hal-hal yang perlu diketahui sebelum berkunjung. Mari kita mulai!

Sejarah
Kata Al-Aqeeq berarti “kuarsa” dalam bahasa Arab, dan Nabi Muhammad SAW menyebutnya “Lembah yang Diberkahi”. Terletak di sepanjang jalur ziarah dan perdagangan kuno, lembah ini memiliki arti penting dalam sejarah Arab.
Menurut catatan sejarah Islam, banyak bangunan, khususnya pada masa Abbasiyah dan Umayyah, didirikan di tepi Wadi Al-Aqeeq Madinah. Pada masa itu, rumah-rumah besar, kebun buah, dan lahan pertanian banyak ditemukan di kawasan Wadi Al Aqeeq.
Selain itu, Sayyidina Urwah bin Zubair radhiyallahu 'anhu, bersama sejumlah anggota keluarga dan sahabat Nabi Muhammad SAW, konon memiliki beberapa istana yang dibangun di lembah ini. Sumur Urwah merupakan sumur terkenal di Madinah yang dibangun di Wadi Al-Aqeeq untuk mengambil air dari Jabal Eir dan memasoknya bagi penduduk setempat.

Geografi
Wadi Al Aqeeq terletak di bagian barat Arab Saudi, 30 kilometer di selatan kota Madinah modern. Lembah ini dianggap sebagai yang terpanjang di kawasan Hijaz dan juga merupakan salah satu kawasan paling suci dalam Islam.
Wadi Al Aqeeq bermula di Taif, melintasi Madinah, dan berakhir di Sam Khulaly, yang terletak di sebelah utara Madinah. Selain itu, lembah ini berjarak sekitar 432,6 kilometer dari Makkah dan memiliki panjang keseluruhan sekitar 52 kilometer.

Situs Terkenal di Sekitar Wadi Al-Aqeeq
Dikelilingi lapisan-lapisan sejarah Islam, Wadi Al Aqeeq bukan sekadar lembah, melainkan jalur yang membawa kita melintasi waktu. Saat menyusuri jalan-jalannya yang tenang, Anda akan menemukan sejumlah situs terkenal yang erat kaitannya dengan kisah hidup Nabi Muhammad SAW. Mari kita jelajahi:

Masjid Miqat Dzul Hulaifah
Masjid Miqat Dzul Hulaifah, yang juga disebut Masjid Miqat, terletak di Dzul Hulaifah, 12 kilometer dari Masjid Nabawi, di sisi barat Lembah Al-Aqeeq. Tempat ini menjadi lokasi para jemaah mengenakan ihram sebelum berangkat dari Madinah menuju Makkah untuk menunaikan Haji atau Umrah.
Masjid ini pertama kali dibangun ketika Sayyidina Umar bin Abdul Aziz rahimahullah menjabat sebagai gubernur Madinah pada 706-712 M, dan mengalami beberapa kali renovasi hingga diselesaikan oleh Raja Fahd bin Abdul Aziz rahimahullah, yang menjabat sebagai Penjaga Dua Masjid Suci. Desain masjid saat ini merupakan hasil renovasi dan pembangunan kembali tersebut.

Jabal’Ayr
Jabal’Ayr adalah gunung yang terletak 7 kilometer di barat daya Masjid Nabawi. Karena bentuknya menyerupai keledai, gunung ini disebut Ayr, yang berarti keledai. Di puncaknya, sisa-sisa arkeologis dari sejumlah bangunan pertahanan dan militer era Ottoman masih terlihat.
Gunung ini membentang dari timur ke barat sepanjang keseluruhannya dan juga disebutkan dalam beberapa hadis dengan beragam pendapat; dalam salah satunya, gunung ini disebut sebagai "gunung dari neraka."

Qasr Urwah
Qasr Urwah, yang juga dikenal sebagai Kastel Urwah bin Zubair, merupakan salah satu bangunan paling menonjol dan terawat di Lembah Aqeeq, sekaligus salah satu objek wisata paling populer di Madinah. Tanah lembah yang subur juga cocok untuk pertanian dan memiliki banyak kebun.
Menurut legenda, Sayyidina Urwah bin Zubair radhiyallahu 'anhu membeli sebidang tanah milik Sayyidina Khawwat bin Jubair radhiyallahu 'anhu di sini, mengubahnya menjadi lahan pertanian, lalu membangun benteng besar yang masih berdiri hingga sekarang.

Kastel Sakeena dan Situs Lainnya
Lembah ini juga menjadi lokasi Kastel Sakeena, yang merupakan putri Sayyidina Imam Hussein radhiyallahu 'anhu, lahan pertanian Sayyidina Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, serta sejumlah kastel lain yang berkaitan dengan tokoh-tokoh penting dalam sejarah Islam, seperti para sahabat Nabi Muhammad SAW, termasuk Sayyidina Saad bin Abi Waqas radhiyallahu 'anhu, Sayyidina Saeed bin al-Aas radhiyallahu 'anhu, dan Sayyidina Marwan bin al-Hakam radhiyallahu 'anhu.

Bir Rumah
Sayyidina Uthman ibn Affan radhiyallahu 'anhu, khalifah Islam ketiga, membeli Bir Rumah, yang juga dikenal sebagai Sumur Rumah, dari seorang Yahudi setempat dan menjadikannya wakaf bagi semua orang. Sumur ini masih berfungsi hingga kini dan merupakan salah satu sumur air tertua di Madinah.
Kini, sumur tersebut menjadi bagian dari wakaf Sayyidina Uthman ibn Affan radhiyallahu 'anhu yang lebih luas, yang juga mencakup masjid dan kebun kurma. Sumur tua itu berada dekat batas utara kebun, sementara sumur yang lebih besar dan lebih baru terletak di bagian selatan kebun kurma, di sebelah utara Masjid Bir Uthamn.

Masjid Mu'aras
Terletak di sebelah Masjid Miqat di Dzul Hulaifah, Masjid Mu'aras merupakan masjid sederhana dari abad pertengahan. Menurut sejarah Islam, masjid ini dibangun di lokasi tempat Nabi Muhammad SAW pernah bermalam sebelum kembali ke Makkah. Kini, hanya tersisa panggung yang ditinggikan sebagai penanda lokasi bekas masjid tersebut.






